nahwu yang butuh terhadap filsafat atau sebaliknya?
Perdebatan Imam As-sairafi dengan sang filsuf.
Suatu hari, terjadi perdebatan sengit di Majlis Wazir Abil Fath antara Imam Sairafi, yang bernama lengkap Abu Sai’d Hasan bin Abdullah As-Sairafi dengan Filsuf bernama Matta bin Yunus Al-Qinaiy. Pada majlis tersebut, Matta mengklaim bahwa : “ Mantiq itu diperlukan dalam setiap ilmu apapun. Tak terkecuali, ilmu nahwu! Karena ia merupakan sebuah tolak ukur/timbangan dalam mengetahui sesuatu itu benar atau salah, sesuai fakta atau tidak, baik atau buruk. Selain itu, ia juga sebagai dalil akan suatu hal yang samar(syubhat), dan sebagai penguji kebenaran. Dengannya pula, kita bisa mengetahui benar dan salah dalam sebuah ucapan.
Namun, Sairafi menolak klaim matta tersebut. Lalu, ia memulai argumennya dengan melemparkan pertanyaan.
السيرافي : " ما تقول في قول القائل : زيد أفضل الإخوة؟
متّٰى قال : صحيح.
السيرافي : فما تقول إن قال : زيد أفضل إخوته؟
متّٰى قال : صحيح.
السيرافي : فما الفرق بينهما مع الصحة؟
Kemudian matta pun menelan ludah sembari terdiam tak menjawab.
Sairafi menimpali lagi : apakah kamu tidak melihat perbedaan yang sangat jelas, antara dua kalimat di atas?
" إن إخوة زيد هم غير زيد، وزيد خارج من جملتهم "
Artinya, saudara Zaid itu berarti semuanya selain zaid. Zaid tidak masuk kategori ikhwah dalam ungkapan di atas.
Dengan dalil, apabila ada yang bertanya : Siapakah saudara Zaid? Maka,kalian tidak boleh menjawab “ Zaid, Amr, Bakr dan Khalid. Melainkan, harus dengan jawaban “ Amr, Bakr dan Khalid”. Karena, Zaid tidak termasuk—saudara dari dirinya sendiri.
Oleh karenanya, tidak boleh menggunakan ungkapan pertanyaan berikut “ زيد أفضل إخوته ". Tetapi, menggunakan ungkapan “ زيد أفضل الإخوة ". Mengapa? Karena, Zaid adalah salah satu diantara ikhwah ( لأنه أحد الإخوة ).
Suatu hari, terjadi perdebatan sengit di Majlis Wazir Abil Fath antara Imam Sairafi, yang bernama lengkap Abu Sai’d Hasan bin Abdullah As-Sairafi dengan Filsuf bernama Matta bin Yunus Al-Qinaiy. Pada majlis tersebut, Matta mengklaim bahwa : “ Mantiq itu diperlukan dalam setiap ilmu apapun. Tak terkecuali, ilmu nahwu! Karena ia merupakan sebuah tolak ukur/timbangan dalam mengetahui sesuatu itu benar atau salah, sesuai fakta atau tidak, baik atau buruk. Selain itu, ia juga sebagai dalil akan suatu hal yang samar(syubhat), dan sebagai penguji kebenaran. Dengannya pula, kita bisa mengetahui benar dan salah dalam sebuah ucapan.
Namun, Sairafi menolak klaim matta tersebut. Lalu, ia memulai argumennya dengan melemparkan pertanyaan.
السيرافي : " ما تقول في قول القائل : زيد أفضل الإخوة؟
متّٰى قال : صحيح.
السيرافي : فما تقول إن قال : زيد أفضل إخوته؟
متّٰى قال : صحيح.
السيرافي : فما الفرق بينهما مع الصحة؟
Kemudian matta pun menelan ludah sembari terdiam tak menjawab.
Sairafi menimpali lagi : apakah kamu tidak melihat perbedaan yang sangat jelas, antara dua kalimat di atas?
" إن إخوة زيد هم غير زيد، وزيد خارج من جملتهم "
Artinya, saudara Zaid itu berarti semuanya selain zaid. Zaid tidak masuk kategori ikhwah dalam ungkapan di atas.
Dengan dalil, apabila ada yang bertanya : Siapakah saudara Zaid? Maka,kalian tidak boleh menjawab “ Zaid, Amr, Bakr dan Khalid. Melainkan, harus dengan jawaban “ Amr, Bakr dan Khalid”. Karena, Zaid tidak termasuk—saudara dari dirinya sendiri.
Oleh karenanya, tidak boleh menggunakan ungkapan pertanyaan berikut “ زيد أفضل إخوته ". Tetapi, menggunakan ungkapan “ زيد أفضل الإخوة ". Mengapa? Karena, Zaid adalah salah satu diantara ikhwah ( لأنه أحد الإخوة ).


Komentar
Posting Komentar