qasidah pujian farazdaq untuk Ali bin husein
Beberapa hari ini, kondisi badan sedang tidak fit. Cuaca
kota cirebon yang tidak menentu barangkali jadi pemicunya. Terkadang, pagi hari
matahari sangat terik. Dan tiba-tiba sejam berselang, siang hari menjadi gelap
mendung hingga hujan tiba-tiba. Tak terkecuali hari ini, akhirnya, keinginan
melaksanakan shalat gerhana berjamaah di masjid pun saya urungkan. Baru saja
merebahkan badan, tak terasa 6 jam tertidur lelap. Terbangun malam hari, karena
batuk yang cukup mengganggu. Setelah usai makan sedikit roti dan meminum obat,
batuk mereda.
Karena bosan, saya coba membuka gawai lalu berselancar di
dunia maya. Tak sengaja, menjumpai qosidah farazdaq yang terkenal melalui salah
satu laman instagram berbahasa arab yang saya ikuti @arabicwords_0 . Tulisan
kaligrafi dan hiasan pinggir pada syiir tersebut sangat indah. Tak kalah
indahnya dengan cerita dibalik lahirnya syiir ini dan makna yang terkandung
dalam syiir yang serat akan makna.
lalu, saya tertarik untuk menceritakannya, mengisi bosan di
pagi yang masih dini ini.
Suatu Ketika pada masa khalifah Walid bin Malik, Hisyam bin
Abdul Malik yang merupakan saudara khalifah pada saat itu, berkunjung ke Makkah
untuk melaksanakan ibadah Haji. Sesampainya di sana, Ketika ia seusai thowaf
dan ingin mencium hajar aswad, ia kesulitan menggapai hajar aswad karena
terdapat kerumunan yang berkumpul mempersilahkan seseorang yang tampak
berwibawa untuk mencium hajar aswad terlebih dahulu. Karena ia tak mampu
melihat dengan jelas siapa yang mendapatkan perlakuan yang demikian istimewa,
kemudian ia naik ke atas mimbar bertujuan melihat dengan jelas siapa gerangan
orang yang mendapatkan perlakuan sedemikian mulia. Ternyata, setelah ia melihat
dari atas mimbar, ia melihat sosok tersebut adalah Ali bin Husein bin Ali bin
Abi Thalib atau yang sering dikenal dengan Ali Zainal Abidin. Di mana, Beliau
adalah cicit nabi yang merupapakan orang yang sangat tampan wajahnya,
berpakaian sangat bersih, dan beraroma sangat harum. Terlihat jelas dihadapan
Hisyam perlakuan orang di sekitar Makkah Ketika mempersilahkan dengan hormat
agar Ali Zainal Abidin dapat mencium hajar aswad lebih dulu daripada mereka
sendiri.
Dalam keadaan demikian, ada segerombolan orang dari negeri
Syam bertanya kepada Hisyam bin Malik tentang
sosok yang sangat terhormat yang mendapatkan perlakuan istimewa. “
siapakah gerangan, pemuda tersebut? Ucap salah satu laki-laki yang mewakili
rasa penasaran kelompoknya. Kemudian, Malik pun berbohong dengan mengatakan “
aku tidak mengetahuinya “. Ia takut, apabila sekelompok orang dari syam ini
mengetahui siapa dia, maka mereka akan menyukainya dan ikut menghormatinya
pula. Tak di sangka-sangka, farazdaq yang sedari awal berada di dekat kerumunan
tak tinggal diam melihat Hiysam berbohong. Ia kemudian menjawab. “ aku
mengetahuinya wahai penduduk syam, tanyalah padaku! “, maka mereka bertanya “
siapakah dia wahai abu faris? “
Kemudian, Abu faris menjawabnya dengan qasidah yang ia
lantukan dengan lantang dihadapan kerumunan banyak orang kala itu.
Mendengar Farazdaq melantukan qasidah, Hisyam pun marah
hingga memerintahkan pasukannya untuk memenjarakan Farazdaq di negeri Ashfan
yang terletak di antara kota Makkah dan Madinah. Melihat hal tersebut, Ali
Zainal Abidin merasa bersalah dan ingin membayar kebaikan dan pujian farazdaq
dengan sepuluh ribu dirham, namun, farzdaq menolaknya dan berkata “ sungguh aku
mendendangkan syiir ini karena mecintaimu dan tidak mengharpak sedikit pun
imbalan darimu “.


Komentar
Posting Komentar